Beranda » Kolom Komunikasyik » Peradaban Cinta

Peradaban Cinta

T Diposting oleh pada 15 Juni 2021
F Kategori
b Belum ada komentar
@ Dilihat 383 kali

Peradaban Cinta
Oleh: Yons Achmad
(Kolumnis, tinggal di Depok)

Agamaku adalah agama yang mengajarkan cinta,
yang senantiasa kuikuti ke mana pun langkahnya;
itulah agama dan keimananku.

Ibnu Arabi 1165-1240 M

Peradaban cinta, dari keluarga muslim, akan melahirkan sesuatu yang dahsyat. Apa itu peradaban?  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikannya sebagai sebuah kemajuan serta hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa.

Secara harfiah, peradaban berasal dari kata “adab” . Ibnu Qoyim dalam kitabnya yang berjudul “Madarijus Salikin” beliau mengatakan: Adab adalah berkumpulnya kebiasaan-kebiasaan baik dalam diri seseorang hamba.

Dalam pengertian umum,  peradaban merupakan tahapan kebudayaan tertentu yang bercirikan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

Terkait dengan peradaban Islam, Direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Hamid Fahmy Zarkasyi dalam satu ceramahnya pernah mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban ilmu.

Dikatakan pula, substansi peradaban Islam itu ibarat pohon (syajarah) yang akarnya tertanam kuat di bumi, sedangkan dahan-dahannya menjulang tinggi ke langit dan memberi rahmat bagi alam semesta. Akar itu adalah teologi Islam (tauhid) yang berdimensi epistemologis.

Lalu, berkembang menjadi tradisi pemahaman terhadap Alquran sehingga lahir intelektual Islam. Dari tradisi ini, kemudian terbentuklah komunitas sehingga melahirkan konsep keilmuan dan disiplin keilmuan Islam. Dari sini, lalu lahir sistem sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan Islam.

Maka, peradaban cinta dalam keluarga muslim, tak lain dan tak bukan adalah peradaban ilmu. Ia bukan semata peradaban sebuah keluarga yang ayahnya sibuk bekerja mencari nafkah untuk bisa menghidupi keluarganya dengan materi (uang) saja. Tak cukup semacam itu.

Betul, memang itulah tugas seorang ayah. Semua keluarga melakukannya, biasa saja, tak ada yang istimewa. Tapi, dalam sebuah keluarga muslim, mendidik anak, memastikan pendidikan anak bisa gemilang di usia belia dengan khazanah adab dan keilmuwan adalah tugas utama.

Di sinilah peran kepemimpinan (qowamah) seorang ayah. Ia tak hanya memberikan nafkah lahir saja. Tapi juga nafkah batin. Dalam soal ini sering salah dipahami. Banyak orang masih berpandangan nafkah batin itu sekadar misalnya “kebutuhan biologis”, tidak.

Nafkah batin artinya seorang ayah memberikan, salah satunya adalah asupan ilmu bagi istri. Yang kelak bakal berdampak positif bagi anak-anaknya.

Secercah pencerahan, khazanah keilmuwan, juga ilmu kekinian untuk bisa menyelesaikan problem-probem kontemporer. Maka hadir dalam majelis ilmu dengan guru-guru terbaik.

Juga rumah dipenuhi dengan buku-buku keIslaman dan kekinian terbaik, menjadi sesuatu yang mutlak harus ada dan dijalankan. Sebuah peradaban cinta, peradan ilmu, memerlukan semua itu.

Kelak, peradaban cinta bakal melahirkan karya-karya hebat dari sepasang kekasih itu. Begitu juga, bakal melahirkan anak-anak hebat dengan adab yang baik, juga ilmu yang cukup.

Sehingga melahirkan generasi-generasi yang militan dengan pemahaman Islam yang lurus, terdidik (well educated) dengan keilmuwan yang cukup, juga punya spesifikasi ilmu dan keterampilan yang bisa diandalkan.

Hasilnya, bisa berkiprah dalam masyarakat sekitar maupun global dengan kemampuan terbaiknya. Menjadi rahmat bagi alam semesta. Begitulah peradaban cinta menemukan bentuknya. []

Belum ada Komentar untuk Peradaban Cinta

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

a Artikel Terkait Peradaban Cinta

Komunikasi Empati Atas Tragedi

T 11 Januari 2021 F A admin

Awal tahun tragedi kembali terjadi. Kali ini tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182 yang memakan banyak korban jiwa. Setiap datangnya tragedi, saat itu juga empati kita diuji. Empati yang paling berkontribusi (berguna) tentu saja sebuah aksi.... Selengkapnya

Personal Branding Lewat Buku

T 29 Mei 2021 F A admin

Personal Branding Lewat Buku Oleh: Yons Achmad (Praktisi Komunikasi. CEO Komunikasyik.com) Personal branding adalah persoalan bagaimana membangun citra diri Anda agar dikenal publik. Dalam artian, orang mengenal Anda sesuai dengan apa yang Anda inginkan. Hal ini, salah satunya terkait dengan... Selengkapnya

Dongeng untuk Anak, Sebaiknya Jangan !

T 5 Februari 2021 F A admin

Dongeng untuk Anak, Jangan ! Oleh: Yons Achmad (Praktisi Komunikasi. CEO Komunikasyik) Dongeng selalu akrab dikaitkan dengan anak. Banyak  yang menyarankan orang tua rajin membacakan dongeng atau mendongengkan anak-anak. Dulu, saya juga begitu. Rajin membacakan dongeng-dongeng untuk anak. Dongeng apa... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silahkan hubungi customer service kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai jasa/produk kami.

Talkshow Komunikasyik: Kreativitas Digital Raih Finansial

Talkshow Komunikasyik: Komunikasi Wisata Pandemi

Talkshow Komunikasyik: Berkomunikasi dengan Al-Quran