Beranda » Kolom Komunikasyik » Pengamat Medsos: Tafsir Rebranding PKS

Pengamat Medsos: Tafsir Rebranding PKS

T Diposting oleh pada 2 Februari 2021
F Kategori
b Komentar Dinonaktifkan pada Pengamat Medsos: Tafsir Rebranding PKS
@ Dilihat 1023 kali

Tafsir Rebranding PKS
Oleh: Yons Achmad
(Pengamat Media Sosial. CEO Komunikasyik.com)

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kembali melakukan perubahan. Dimulai dari perubahan lambang (logo). Hal ini tentu menarik. Kenapa? Dalam setiap upaya perubahan, tentu mencita-citakan sebuah proses dan hasil yang lebih baik dari sebelumnya. Terlepas bisa terlaksana atau tidak itu persoalan lain lagi. Yang pasti upaya perubahan ini tentu menjadi angin segar PKS lewat kepemimpinan baru Ahmad Syaiku (Asyik) sebagai presiden. Angin segar bagi siapa? Tentu tak sekadar bagi kader dan simpatisan, tapi juga pada masyarakat luas.

Angin segar seperti apa?  Kita sama-sama tafsirkan lambang (logo) nya.  Perubahan dominan yang dilakukan dimulai dari warna. Dari dominan hitam menjadi orange (Jingga). Setiap warna punya tafsirnya. Ibarat puisi, dalam beberapa pembacaan (deklamasi) masih sering dilakukan dalam suasana hening dalam ruangan tertutup, latar hitam, lampu temaram. Bagus juga. Tapi, sepertinya lebih asoy dibawakan di ruang terbuka, panggung bebas, diiringi musik riang gembira. Bukankah itu  perayaan puisi yang asyik juga?

Seperti itulah spirit warna oranye dimunculan, untuk membangun suasana kehangatan, riang gembira dan semangat muda. Sepertinya  hal ini yang ingin dicitakan PKS, layaknya juga spirit anak muda  di mana optimisme dan harapan selalu membuncah dalam dada.  Hanya saja, warna hitam yang melambangkan keseriusan, kedisiplinan dan ketegasan seperti dalam tulisan “PKS””  mesti tetap ada. Dalam soal apa? Tak melulu dalam urusan politik praktis kekuasaan tapi juga dalam praktik kehidupan keseharian.

Parameternya apa?  Gambar bulan sabit sebagai bentuk pencerahan muncul. Dalam mengarungi lautan luas NKRI dengan Pancasila sebagai kesepakatan bersama, tetap bulan sabit dalam hal ini Islam perlu menjadi pegangan. Sebab, Pancasila menjadi lebih bermakna ketika ditafsirkan lewat agama masing-masing. PKS memang bukan partai yang semua anggotanya adalah Islam. Tapi, spirit Islam  tak boleh hilang. Kenapa? Karena Islam sendiri bukan agama untuk umatnya saja. Tapi agama yang bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam, seluruh umat manusia. PKS yang malu-malu membawa spirit Islam hanya akan menghilangkan identitas utamanya. Maka, spirit bulan sabit perlu terus melekat di dada. Agar PKS bisa terus bisa memberikan warna bagi kehidupan politik dan keseharian yang tak biasa.

Selanjutnya, dari kotak menjadi bulat. Bisa ditafsirkan dari kekakuan menuju keluwesan. Sebuah usaha agar PKS bisa diterima siapa saja. Banyak usahanya. Seperti yang telah dilakukan. Misalnya mengubah istilah “Markas Dakwah” menjadi “Rumah Rakyat”. Kesan yang pertama adalah tembok dan kepemilikan tuan rumah. Kesan kedua adalah rumah bagi siapa saja. Seperti di dalam “rumah” berbentuk bulat, orange dan di dalamnya ada “Bulan Sabit” (keadilan) dan “Padi” (kesejahteraan).

Begitulah sepertinya PKS ke depan bakal membangun peran. Sebuah keadilan dan kesejahteraan, bukan bagi elitnya, bukan juga sekadar bagi pendukungnya. Tapi, bagi siapapun yang masih setia duduk dan berdiri di negeri ini tanpa kecuali. PKS mesti lebih peduli pada suara-suara orang kecil yang sering tak didengar. Menjaga, merawat dan menangkap aspirasinya dengan spirit warna putih yang membingkainya, spirit kesucian, ketulusan dan keikhlasan.  Apakah PKS bisa melakukan? Jawabnya tentu mau atau tidak mau, bukan bisa atau tidak bisa. Semoga. []

Komentar dinonaktifkan: Pengamat Medsos: Tafsir Rebranding PKS

Maaf, form komentar dinonaktifkan untuk produk/artikel ini

a Artikel Terkait Pengamat Medsos: Tafsir Rebranding PKS

Komunikasi Empati Atas Tragedi

T 11 Januari 2021 F A admin

Awal tahun tragedi kembali terjadi. Kali ini tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182 yang memakan banyak korban jiwa. Setiap datangnya tragedi, saat itu juga empati kita diuji. Empati yang paling berkontribusi (berguna) tentu saja sebuah aksi.... Selengkapnya

Propaganda Gagal Cokro TV Serang MUI Depok

T 27 Mei 2022 F A admin

Sebagai chanel propaganda, Cokro TV sebenarnya tidak pernah berhasil. Tapi seolah tak pernah lelah, mereka terus saja produksi konten-konten “panas” dengan harapan pemirsa  memercayainya. Istilah propaganda sendiri, merujuk Prof. Ana Nadya Abrar dalam buku “Bila Fenomena Jurnalisme Direfleksikan” (1997) dipahami... Selengkapnya

Amalan 3 K Di Tahun 2022

T 2 Januari 2022 F A admin

Amalan 3 K di Tahun 2022 Oleh: Yons Achmad (Pendiri Akademi Komunikasyik) Setiap orang punya mimpi dan harapan setiap awal tahun. Entah itu yang disimpan dalam hati dan pikiran, ada juga yang  dituliskan.  Saya sendiri tak lelah berharap. Setiap awal... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silakan hubungi kami untuk informasi lengkapnya.

Talkshow Komunikasyik: Kreativitas Digital Raih Finansial

Talkshow Komunikasyik: Komunikasi Wisata Pandemi

Talkshow Komunikasyik: Berkomunikasi dengan Al-Quran