Beranda » Kolom Komunikasyik » Merawat Ruang Publik Kritis

Merawat Ruang Publik Kritis

T Diposting oleh pada 2 Agustus 2021
F Kategori
b Belum ada komentar
@ Dilihat 322 kali

Merawat Ruang Publik Kritis

Oleh: Yons Achmad

(Pengamat Komunikasi. Pendiri Komunikasyik.com)

Hadirnya ruang publik yang kritis diperlukan dalam negara demokrasi seperti Indonesia. Ketika muncul beragam upaya  mengarah kepada otoriterianisme yang ditandai salah satunya dengan membungkam, menghambat dan membatasi suara-suara yang berseberangan dengan kekuasaan (pemerintahan), tentu saja hal ini tak boleh terjadi. Harus dilawan.

Kita memerlukan iklim ruang publik yang bebas, di mana di sana beragam kebijakan pemerintah dan isu-isu yang terkait langsung dengan publik (masyarakat) diperbincangkan dengan beragam perspektif. Harapannya, tentu arah kebijakan pemerintah selaras dengan sebesar kemaslahatan publik, bukan sekadar berpihak pada elit politik maupun oligarki.

Ruang publik sendiri, meminjam seorang pemikir filsafat komunikasi  asal Jerman Habermas diartikan sebagai tempat terjadinya beragam  pertukaran dan pergulatan gagasan baik kultural, politik maupun ekonomi. Ruang publik ini menyaratkan adanya sebuah zona netral di mana tidak ada dominasi di dalamnya.

Dalam konteks kekinian, tentu saja ada ruang yang semacam itu. Jika dulu media (pers) memegang peran penting sebagai ruang publik, kini hadir media sosial (medsos) yang punya fungsi serupa. Walaupun keduanya sama-sama memegang peran penting, tapi watak keduanya sedikit berbeda. Melihat konteks politik di tanah air, bagaimana sebenarnya wajah ruang publik kita, khususnya di media sosial?

Hadirnya media sosial dinilai sebagai arus besar kebebasan. Ada anggapan, media sosial adalah lawan tanding media arus utama (mainstream). Apa yang tidak diberitakan di media massa, muncul informasinya di media sosial. Kenyataan demikian dinilai sebagai sebuah kemewahan tersendiri dalam iklim demokrasi di Indonesia. Orang bebas bersuara, menyampaikan informasi maupun opini sesuai dengan kehendaknya. Hal ini tentu menjadi hak warga negara.

Hanya, menjadi persoalan ketika sudah bersinggungan dengan pihak lain, baik itu individu, lembaga lain bahkan institusi pemerintah. Muncul problem negatif seperti pencemaran nama baik, ujaran kebencian, provokasi bahkan maraknya kabar bohong (hoaks). Persoalan menjadi bertambah pelik ketika tafsir atas semua itu bukan berdasarkan hukum, tapi semata-mata tafsir aparat penegak hukum dan kekuasaan. Dalam konteks ini, kehadiran medis sosial sebagai pilar demokrasi terbaru menjadi  sebuah ironi.

Di alam demokrasi, media sosial sebagai ruang kritik, terutama kritik atas segala kebijakan pemerintah memang diperlukan. Hal ini adalah sebuah iklim yang baik bagi tumbuhnya dialog dan sarana bagaimana memunculkan beragam terobosan (breakthrough). Problem selanjutnya adalah kedewasaan warga (netizen) dalam berinteraksi dan berkomunikasi di media sosial. Ketika kedewasaan dan akal sehat terlupakan, jerat hukum misalnya melalui Undang-Undang Internet dan Transaksi Elektronik (UU ITE) menanti. Hal ini tentu tak diinginkan semua orang. Masalahnya, ternyata banyak yang terkena pasal-pasal di dalamnya.

Terlepas dari semua itu. Saya kira, merawat ruang publik kritis ini tetap diperlukan. Ruang publik kritis, ditandai dengan aktifnya warganet (netizen) melakukan beragam kritik terhadap kebijakan pemerintah yang tak sesuai, atau etika-etika (politik), moral yang dilanggar. Terbukti telah membawa perubahan yang berarti.

Misalnya vaksinasi berbayar tidak jadi diberlakukan atau Rektor UI mundur dari rangkap jabatan di BUMN. Ini adalah salah satu capaian dari bagaimana ruang publik kritis itu terawat dengan baik. Ke depan, saya kira diperlukan gerakan yang lebih vokal lagi, terus merawat iklim ruang publik kritis, sehingga bisa melahirkan perubahan-perubahan yang berarti. []

Belum ada Komentar untuk Merawat Ruang Publik Kritis

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

a Artikel Terkait Merawat Ruang Publik Kritis

3 Cara Agar Tidak Kehilangan Akal Sehat

T 5 Juli 2021 F A admin

Pandemi Covid-19 benar-benar menghancurkan segala hal. Manusia bertumbangan, ekonomi hancur, hubungan keluarga (suami-istri) banyak yang berantakan. Banyak yang mengalami kondisi semacam itu. Termasuk juga saya. Terlepas dari semua itu, bagaimanapun juga, akal sehat harus tetap terjaga. Sekali kehilangan akal sehat,... Selengkapnya

Komunikasi Empati Atas Tragedi

T 11 Januari 2021 F A admin

Awal tahun tragedi kembali terjadi. Kali ini tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182 yang memakan banyak korban jiwa. Setiap datangnya tragedi, saat itu juga empati kita diuji. Empati yang paling berkontribusi (berguna) tentu saja sebuah aksi.... Selengkapnya

Dongeng untuk Anak, Sebaiknya Jangan !

T 5 Februari 2021 F A admin

Dongeng untuk Anak, Jangan ! Oleh: Yons Achmad (Praktisi Komunikasi. CEO Komunikasyik) Dongeng selalu akrab dikaitkan dengan anak. Banyak  yang menyarankan orang tua rajin membacakan dongeng atau mendongengkan anak-anak. Dulu, saya juga begitu. Rajin membacakan dongeng-dongeng untuk anak. Dongeng apa... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silahkan hubungi customer service kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai jasa/produk kami.

Talkshow Komunikasyik: Kreativitas Digital Raih Finansial

Talkshow Komunikasyik: Komunikasi Wisata Pandemi

Talkshow Komunikasyik: Berkomunikasi dengan Al-Quran