Beranda » Kolom Komunikasyik » Anies Baswedan, Semakin Diserang Semakin Besar

Anies Baswedan, Semakin Diserang Semakin Besar

T Diposting oleh pada 11 Juni 2022
F Kategori
b Belum ada komentar
@ Dilihat 195 kali

Pemilu masih jauh. Tapi, politik kotor sudah muncul. Kali ini, serangan ditujukan ke Anies Baswedan. Salah satu kandidat potensial capres 2024. Gagal melakukan kampanye pembusukan di event Formula E, kini gencar melakukan kampanye berbau fitnah yang benar-benar tidak sehat. Apakah ini dilakukan oleh barisan sakit hati di pilkada DKI tahu lalu? Entahlah. Yang pasti, berkat Anies menang di pilkada DKI, reklamasi yang bakal hadirkan hunian baru berupa banyak apartemen dan pertokoan distop, tak berlanjut. Kota baru yang digembar-gemborkan bernama “Meikarta” menjadi ambudarul. Itu hanya beberapa contoh saja.

Kini, kampanye berbau fitnah, dalam istilah yang disampaikan Guru Besar UMS, Prof. Aidul Firiciada sebagai kampanye menjual atau mempromosikan ketakutan (fear mongering) dihadirkan kembali. Kampanye sendiri, menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 2008 tentang pemilihan umum DPR, DPD, DPRD, diartikan sebagai kegiatan peserta pemilu untuk meyakinkan para pemilih dengan menawarkan visi, misi dan program peserta pemilu. Pada dasarnya kegiatan kampanye dilandasi oleh prinsip persuasi, yaitu mengajak dan mendorong publik untuk menerima atau melakukan sesuatu yang dianjurkan atas dasar kesukarelaan. Melihat definisi demikian, pembusukan politik berbau fitnah bukan bagian dari kampanye politik.

Kasus nyatanya seperti apa sih? Dari pengamatan sepintas. Ada tiga kasus yang muncul secara berurutan setelah kampanye pembusukan Anies di event Formula E gagal total. Kali ini, berusaha menggunakan strategi “Nabok nyilih tangan”. Memakai tangan orang lain, atau orang yang sengaja dipakai untuk menghancurkan Anies. Tak tanggung-tanggung, catut ormas yang sudah dibubarkan Jokowi seperti FPI dan HTI. Ada kasus FPI Reborn yang dukung Anies padahal itu FPI palsu, Deklarasi dukung Anies di hotel Bidakara, Jakarta yang aktornya mengaku mantan HTI dan FPI padahal mantan tim sukses “01” pada pilpres tahun lalu dan pendukung Ahok jadi komisaris BUMN, kasus ini konon sempat diwarnai pengibaran bendera “Tauhid”. Terakhir dukungan Gema Pembebasan, sayap HTI yang ternyata juga palsu. Sungguh, sebuah kotradiksi. Maunya apa orang-orang ini. Intinya apa? opini dihembuskan, Anies didukung ormas terlarang FPI, HTI, pro khilafah dst.

Saya melihat fakta demikian pemandangan politik yang tidak sehat. Pilpres masih jauh saja, cara-cara kotor demikian sudah dipakai. Maka, tak menutup kemungkinan cara-cara yang lebih brutal lagi bakal dihadirkan. Ada yang menganggap ini permainan opini publik. Tapi saya kira bukan begini caranya. Opini publik merefleksikan proses dinamis di mana ide-de diekspresikan.

Memang, dalam praktik komunikasi kontemporer, para praktisi public relations merasa sah menggalang atau merekayasa opini publik (reingering of public opinion). Termasuk menyusun agenda setting, menyusun skenario mengangkat topik tertentu sebagai bahan publikasi. Tapi, ketika itu sudah berbau fitnah, maka tentu saja jelas melanggar etika komunikasi (PR).

Sebagai warga negara yang baik, tentu saja tak bisa melarang para kandidat presiden berkampanye lebih awal, termasuk mengerahkan relawan dan buzzer-buzzer politiknya lebih awal pula. Tapi, cara-cara yang lebih elegan, bijak dan beretika meski dikedepankan. Mungkin ada yang bilang ini usulan terlalu normatif dan naif dalam politik. Tapi, saya kira publik harus terus mendorong iklim politik yang lebih sehat dan mencerdaskan.

Kita, sebagai publik, warga negara yang melek media, melek politik, melek medsos. Harus berani speak up, katakan tidak untuk kampanye-kampanye palsu yang berbau fitnah semacam ini. Kalau ternyata masih terjadi, percayalah, Anies Baswedan, semakin diserang, malah justru semakin besar. Publik tidak bakal bersimpati dengan kampanye kotor, berbau fitnah dan menghalalkan cara semacam ini, percayalah !

(Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. CEO Komunikasyik.com)

Belum ada Komentar untuk Anies Baswedan, Semakin Diserang Semakin Besar

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

a Artikel Terkait Anies Baswedan, Semakin Diserang Semakin Besar

City Branding Depok Kota Buku

T 9 Juni 2021 F A admin

City Branding Depok Kota Buku Oleh: Yons Achmad (Praktisi Komunikasi. Pendiri Komunikasyik.com) Depok sebagai Kota Buku. Ini bayangan spontan saya ketika seorang kawan menanyakan Depok ingin dikenal sebagai apa?  Nama  daerah Depok memang banyak. Tapi, yang saya maksud adalah Depok,... Selengkapnya

Silaturahmi yang Maknawi

T 10 Mei 2022 F A admin

We cannot not communicate, itu salah satu aksioma dasar komunikasi. Bahwa sebagai manusia, kita tidak bisa tidak berkomunikasi. Bahkan, ada yang percaya, termasuk saya, tak peduli sebesar apapun masalah yang menimpa, akan selesai jika dikomunikasikan. Maka, momentum lebaran, banyak yang... Selengkapnya

Media Sosial Tak Sekadar Medan Perang

T 7 Juni 2021 F A admin

  Media Sosial Tak Sekadar Medan Perang Oleh: Yons Achmad (Praktisi Komunikasi. CEO Komunikasyik.com) “Media sosial itu medan perang Bung, kau bakal terlibat pertempuran di sana,” kata kawan. Seorang pemimpin redaksi sebuah media online. Saya sependapat dengan pernyataan demikian. Tapi,... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silakan hubungi customer service kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai jasa/produk kami.

Talkshow Komunikasyik: Kreativitas Digital Raih Finansial

Talkshow Komunikasyik: Komunikasi Wisata Pandemi

Talkshow Komunikasyik: Berkomunikasi dengan Al-Quran