Beranda » Kolom Komunikasyik » Media Sosial Tak Sekadar Medan Perang

Media Sosial Tak Sekadar Medan Perang

T Diposting oleh pada 7 Juni 2021
F Kategori
b Belum ada komentar
@ Dilihat 183 kali

 

Media Sosial Tak Sekadar Medan Perang
Oleh: Yons Achmad
(Praktisi Komunikasi. CEO Komunikasyik.com)

“Media sosial itu medan perang Bung, kau bakal terlibat pertempuran di sana,” kata kawan. Seorang pemimpin redaksi sebuah media online. Saya sependapat dengan pernyataan demikian. Tapi, saya juga punya pemikiran lain. Media sosial barangkali memang medan perang, tapi tak sekadar itu.

Bagi mereka penganut komunikasi profetik, kehadiran media sosial memang bisa berfungsi semacam itu, sebagai medan perang.  Selaras pengertiannya bahwa komunikasi profetik adalah komunikasi berbasis kenabian (nabawiyah) dengan Al-Quran sebagai inspirasi utamanya. Di dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 110 disebutkan bahwa “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, dan beriman kepada Allah…”

Kehadiran media sosial juga bisa dijalankan semacam itu. Menjadi medan pertempuran dalam mengkampanyekan beragam kebaikan, mencegah beragam upaya perusakan baik politik, sosial, budaya maupun ilmu pengetahuan serta mendorong netizen (warganet) untuk punya orientasi ketuhanan dalam segala tindak tanduknya agar tidak liar dalam bermedia. Itu adalah proyek keumatan yang tak boleh dilupakan.

Hanya saya kira, kita juga perlu melongok media sosial secara filosofis. Bagaimana kita memandang dan memperlakukan media sosial  untuk kebaikan diri. Sebagai medan perenungan di tengah arus informasi yang begitu riuh ini. Agar kita juga punya otensitas (keaslian) diri sehingga kita tahu siapa diri kita, potensi terbaik, sekaligus andalan kontribusi (amal) nya.

Dalam bermedia sosial, modal pertama adalah ketenangan dan kebahagiaan diri. Kalau modal utamanya adalah kebencian dan semangat menjatuhkan orang atau kelompok tertentu, maka hasilnya bisa kita lihat seperti sekarang ini. Media sosial  sekadar menjadi media “adu jotos” tanpa basis argumen, fakta atau khazanah pemikiran intelektual yang cukup. Ini mengerikan.

Itu sebabnya, kita perlu berhenti sejenak. Melongok ke dalam diri, setidaknya merawat akal dan hati agar tiap hari bahagia, terutama ketika bermedia sosial, agar lanskap media sosial kita lebih bermutu, intelek dan beradab.

Filsuf  Kierkegaard pernah menulis tentang “The Unhappiest Man”, di mana dia mengidentifikasi manusia tidak bahagia sebagai orang yang selalu absen untuk dirinya sendiri, tidak pernah hadir untuk dirinya sendiri di masa sekarang. Dia terombang-ambing pada kenangan silam dan bayangan indah masa depan, hasilnya, menghalangi partisipasi aktif di masa sekarang.

Maka, kita perlu mengamini penerimaan diri. Merawat kebahagiaan diri di tengah ketidakberesan lingkungan terdekat maupun lingkungan media sosial. Mengenali diri terutama potensi yang bisa diandalkan sebagai kontribusi (amal). Dengan begitu ia secara sadar bisa membangun dunianya sendiri tanpa melupakan konteks mewujudkan dunia global yang lebih baik.

Dalam kesempatan ini, mengikuti logika media sosial sebagai medan perang, saya kira kita memang perlu terlibat. Sebagai upaya transformasi mewujudkan dunia yang lebih baik. Tapi, kita juga perlu melongok ke dalam diri. Agar bisa menggunakan media sosial dengan aura kebahagiaan, bukan kebencian. Sehingga, wajah media sosial kita semakin sejuk, intelek dan beradab. Demikian. []

Belum ada Komentar untuk Media Sosial Tak Sekadar Medan Perang

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

a Artikel Terkait Media Sosial Tak Sekadar Medan Perang

Pengamat Medsos: Tafsir Rebranding PKS

T 2 Februari 2021 F A admin

Tafsir Rebranding PKS Oleh: Yons Achmad (Pengamat Media Sosial. CEO Komunikasyik.com) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kembali melakukan perubahan. Dimulai dari perubahan lambang (logo). Hal ini tentu menarik. Kenapa? Dalam setiap upaya perubahan, tentu mencita-citakan sebuah proses dan hasil yang lebih... Selengkapnya

Komunikasi Empati Atas Tragedi

T 11 Januari 2021 F A admin

Awal tahun tragedi kembali terjadi. Kali ini tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182 yang memakan banyak korban jiwa. Setiap datangnya tragedi, saat itu juga empati kita diuji. Empati yang paling berkontribusi (berguna) tentu saja sebuah aksi.... Selengkapnya

Penghapusan Mural Ironi Demokrasi

T 20 Agustus 2021 F A admin

Penghapusan Mural Ironi Demokrasi Oleh: Yons Achmad (Pengamat Komunikasi. CEO Komunikasyik) “Saya kangen di demo, pemerintah perlu ada yang kontrol” kata Jokowi  sambil cengegesan dalam kampanyenya yang tayang di media suatu ketika. Saat berlangsung acara, tepuk tangan membahana menyambut ucapan... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silakan hubungi customer service kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai jasa/produk kami.

Talkshow Komunikasyik: Kreativitas Digital Raih Finansial

Talkshow Komunikasyik: Komunikasi Wisata Pandemi

Talkshow Komunikasyik: Berkomunikasi dengan Al-Quran