Beranda » Kolom Komunikasyik » Etika Seorang Youtuber

Etika Seorang Youtuber

T Diposting oleh pada 27 Mei 2021
F Kategori
b Belum ada komentar
@ Dilihat 157 kali

Etika Seorang Youtuber
Oleh: Yons Achmad
(Praktisi Komunikasi. CEO Komunikasyik.com)

Ketika seseorang telah yakin sebuah pekerjaan menjadi profesinya, maka etika akan menyertainya. Ini bukan tentang soal benar atau salah, tapi soal pantas atau tidak pantas. Bagaimana dia memandang sesuatu itu pantas atas dasar sebuah kebaikan, atau memandangnya  tidak pantas karena itu sebuah keburukan.

Sekarang, banyak orang yang menyebut Youtuber sebagai profesi. Menjadi pertanyaan kecil, bagaimana sebenarnya etika perlu dijalankan oleh seorang Youtuber? Saya kira, persoalan ini masih belum banyak dibicarakan. Kenapa? Seperti yang terjadi, masing-masing pribadi Youtuber bekerja dengan standar moral masing-masing. Hasilnya apa? Persoalan etika ini apa boleh buat, masih liar.

Bahkan, ada yang terang-terangan mengatakan bahwa kini era kebebasan, semua orang bebas mengekspresikan opini, pendapat maupun menyalurkan beragam kreativitas. Tanpa ada yang mampu melarangnya. Banyak Youtuber berpendapat, yang penting tidak melanggar UU ITE, selesai. Itu sebabnya, santai saja misalnya Atta Halilintar menjadikan istrinya yang konon keguguran sebagai sebatas konten Youtube.

Mungkin dilema, di satu sisi istri keguguran adalah persoalan privat (pribadi), tapi karena merasa figur publik, merasa penting untuk mengumumkannya dalam bentuk konten video. Banyak yang kemudian menyayangkan, semula mungkin sebatas konten empati, tapi lama-lama malah dikemas jadi semacam konten “hiburan”, apalagi sampai mendatangkan produk komersial terkait dengan keguguran.  Bagaimana soal etika? Lagi-lagi masih kembali kepada pribadi masing-masing Youtuber.

Di lain kasus, ada sebuah acara televisi dengan host Desta dan Vincent. Acara itu memang penuh guyon dan canda. Alhasil menjadi tayangan hiburan yang banyak digemari pemirsa. Layaknya tayang di televisi, masih cukup terkontrol. Lantas, di Youtube, muncul tayangan serupa dengan host yang sama. Apa yang terjadi? Bebas sekali, perkataan kotor, tidak pantas, ternyata bebas tayang di Youtube. Pertanyaannya, apakah pemirsa di televisi dan Youtube beda? Apakah menjadi merasa bebas ketika semua itu tayang di Youtube? Di sinilah problem etika mengemuka kembali.

Padahal, saya kira sama saja. Mau tayang di televisi, mau tayang di Youtube, tak ada bedanya. Standar etika mesti dipegang. Agak pelik memang. Sementara, pertarungan merebut klik, view, subscribe begitu keras. Masing-masing Youtuber punya caranya masing-masing merebut hati pemirsa. Alhasil, persoalan etika menjadi nomor sekian. Yang penting video ditonton banyak orang tak peduli sekontroversi apapun.

Baru-baru ini (20 Mei 2021), Presiden Jokowi meluncurkan apa yang disebut dengan Gerakan Literasi Digital Nasional. Menjadi penting kemudian, aspek etika ini menjadi isu yang perlu terus dibicarakan. Setiap program literasi digital, saya kira sentuhan etika ini harus menjadi bagian tak terpisahkan. Harapannya, lalu lintas informasi, konten-konten yang dihasilkan, salah satunya oleh para Youtuber kita menjadi lebih bermutu dan beradab. []

Belum ada Komentar untuk Etika Seorang Youtuber

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

a Artikel Terkait Etika Seorang Youtuber

Merawat Bahasa Media

T 16 November 2020 F A admin

Merawat Bahasa MediaOleh: Yons Achmad(Praktisi Komunikasi. CEO Komunikasyik.com) Media saat ini masih menjadi rujukan orang dalam berpikir, menentukan sikap bahkan mengambil keputusan. Tampilan luar seseorang ketika berbicara, menulis bahkan berkomentar di media sosial akan terlihat dari bacaan yang mereka konsumsi.... Selengkapnya

Praktisi Komunikasi: Menjadi Buzzer Politik Itu Halal

T 20 November 2020 F A admin

Menjadi Buzzer Politik Itu HalalOleh: Yons Achmad(Praktisi Komunikasi.CEO Komunikasyik.com) Apakah jadi buzzer politik itu haram? Tidak. Boleh-boleh saja dan halal. Datangnya era media sosial menjadikan siapapun memungkinkan terjun bahkan menjadikannya sebagai profesi. Artinya, dia mendapatkan penghasilan dari sana. Hanya, kadang... Selengkapnya

Penghapusan Mural Ironi Demokrasi

T 20 Agustus 2021 F A admin

Penghapusan Mural Ironi Demokrasi Oleh: Yons Achmad (Pengamat Komunikasi. CEO Komunikasyik) “Saya kangen di demo, pemerintah perlu ada yang kontrol” kata Jokowi  sambil cengegesan dalam kampanyenya yang tayang di media suatu ketika. Saat berlangsung acara, tepuk tangan membahana menyambut ucapan... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silakan hubungi customer service kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai jasa/produk kami.

Talkshow Komunikasyik: Kreativitas Digital Raih Finansial

Talkshow Komunikasyik: Komunikasi Wisata Pandemi

Talkshow Komunikasyik: Berkomunikasi dengan Al-Quran