Beranda » Kolom Komunikasyik » Dongeng untuk Anak, Sebaiknya Jangan !

Dongeng untuk Anak, Sebaiknya Jangan !

T Diposting oleh pada 5 Februari 2021
F Kategori
b Belum ada komentar
@ Dilihat 102 kali

Dongeng untuk Anak, Jangan !
Oleh: Yons Achmad
(Praktisi Komunikasi. CEO Komunikasyik)

Dongeng selalu akrab dikaitkan dengan anak. Banyak  yang menyarankan orang tua rajin membacakan dongeng atau mendongengkan anak-anak. Dulu, saya juga begitu. Rajin membacakan dongeng-dongeng untuk anak. Dongeng apa saja. Yang penting ada pesan moralnya. Ketika anak saya bersekolah di sebuah sekolah Islam,  baru kemudian saya sadari, ternyata hal ini kurang tepat. Ternyata, bukan dongeng  yang seharusnya diajarkan. Tapi apa? Kisah.

Ya, ini adalah skala prioritas. Sejak kecil anak perlu diajarkan, didengarkan, diperkenalkan tentang kisah-kisah, bukan dongeng. Apa bedanya? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) membedakannya.  Dongeng artinya tidak benar-benar terjadi alias cerita khayalan semata. Sementara, kisah adalah cerita tentang kehidupan seseorang. Ini bukan dongeng, tapi benar-benar terjadi. Itu sebabnya, kalau menimbang skala prioritas, lebih baik anak-anak, khususnya bagi keluarga muslim, kisah harus diperkenalkan lebih dahulu.  Bukan dongeng yang mengada-ada.

Apalagi, di dalam Al-Quran sendiri sepertiganya adalah kisah. Sementara, kisah sendiri, merujuk buku “Kisah-Kisah Nubuwat Dari Nabi” karya DR. Umar Sulaiman Al-Asyar berasal dari kata Al-Qishash. Dalam bahasa Arab, Qishash berarti berita-berita yang diriwayatkan dan diceritakan. Al-Quran menyebut berita-berita tentang orang-orang tedahulu yang diceritakan kepada kita sebagai qishash.  Itu sebabnya, sekolah-sekolah Islam terbaik menjadikan kisah sebagai bagian dari kurikulum pendidikan.

Menguatkan hal itu, buku “Ar-Rasul Al-Mu’alim” karya Abdul Fattah Abu Ghuddah memberikan pemahaman bahwa seringkali  Rasulullah memberikan pengajaran kepada para sahabatnya dengan menceritakan kisah-kisah dan kejadian yang menimpa umat-umat terdahulu. Kisah memberikan kesan yang baik, lebih menarik perhatian, lebih mendorong mereka untuk mencurahkan semua tenaga dan perhatian serta merasuk ke dalam hati dan telinga secara maksimal.

Dengan pemahaman demikian, saya kira bagi  kita, keluarga muslim yang ingin melahirkan generasi dengan fikroh (pemikiran) yang baik dan lurus, sudah saatnya fokus pada pengajaran kisah, bukan kepada dongeng-dongeng. Dengan beragam kisah dalam Al-Quran maupun kisah-kisah sahabat, itu sudah terlalu banyak. Artinya, buat apa menyibukkan anak dengan dongeng-dongeng yang tidak jelas sumbernya? Dengan ini pula, bagi juru dongeng (pendongeng) muslim, sudah saatnya pula merebranding diri sebagai juru kisah. Bukan pendongeng, tapi pengisah atau pengkisah. Istilah ini bisa disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Tapi, intinya seperti itu.

Perlu diingat di sini, saya tidak antipati dengan misalnya dongeng-dongeng daerah tertentu dengan kearifan lokalnya masing-masing. Hanya, di sini saya bicara skala prioritas saja. Semua memang kembali kepada pilihan masing-masing. Terakhir, ada satu pertanyaan kecil. Kenapa Indonesia banyak koruptor? Ya wajar saja. Kenapa? Karena sejak kecil yang diajarkan dongeng tentang kancil nyolong (mencuri)  timun. Ini candaan saja. Intinya, kisah dulu, dongeng belakangan. Kalau perlu jangan. []

Belum ada Komentar untuk Dongeng untuk Anak, Sebaiknya Jangan !

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

a Artikel Terkait Dongeng untuk Anak, Sebaiknya Jangan !

Literasi Media Sosial untuk Profesional

T 28 Februari 2021 F A admin

Literasi Media Sosial Untuk Profesional Oleh: Yons Achmad (Pengamat media sosial. CEO Komunikasyik.com) Media sosial adalah kenyataan. Kini, sadar atau tidak kenyataan itu ada di depan mata kita. Terlibat atau tidak di dalamnya, aktif atau tidak di dalamnya, setiap hari... Selengkapnya

Komunikasi Empati Atas Tragedi

T 11 Januari 2021 F A admin

Awal tahun tragedi kembali terjadi. Kali ini tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182 yang memakan banyak korban jiwa. Setiap datangnya tragedi, saat itu juga empati kita diuji. Empati yang paling berkontribusi (berguna) tentu saja sebuah aksi.... Selengkapnya

Komunikasi Produktif Lebaran

T 17 Mei 2021 F A admin

Lebaran adalah momentum bertemu banyak orang. Membangun sebuah komunikasi yang produktif diperlukan agar kita bisa menemukan makna dari setiap momentum pertemuan dengan beragam orang tersebut. Dalam setiap komunikasi lebaran, saya kira yang paling penting bukan memamerkan sesuatu, tapi sekadar berbagai... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silakan hubungi customer service kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai jasa/produk kami.

Talkshow Komunikasyik: Kreativitas Digital Raih Finansial

Talkshow Komunikasyik: Komunikasi Wisata Pandemi

Talkshow Komunikasyik: Berkomunikasi dengan Al-Quran