Beranda » Kolom Komunikasyik » Komunikasi Empati Atas Tragedi

Komunikasi Empati Atas Tragedi

T Diposting oleh pada 11 Januari 2021
F Kategori
b Belum ada komentar
@ Dilihat 24 kali

Awal tahun tragedi kembali terjadi. Kali ini tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182 yang memakan banyak korban jiwa. Setiap datangnya tragedi, saat itu juga empati kita diuji. Empati yang paling berkontribusi (berguna) tentu saja sebuah aksi. Seperti yang dilakukan oleh beragam lembaga filantropi muslim di tanah air.

Informasi yang sempat saya catat, beragam lembaga filantropi bergerak cepat. Rumah Zakat Action, di awal tragedi langsung terjun meluncur ke posko pencarian lokasi musibah. Menyiapkan makanan dan minuman untuk para satgas, relawan dan petugas. Juga, membuka Pos Segar untuk keluarga korban yang sedang menunggu perkembangan informasi terkait musibah tersebut di posko utama Crisis Center Bandara Supadio, Pontianak.

Tak ketinggalan, Aksi Cetap Tanggap (ACT) bergabung dengan Tim SAR membantu proses pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Sementara, Dompet Dhuafa ikut membantu evakuasi korban dengan menerjunkan tim penyelam, satu armada Barzah serta ambulan lengkap dengan dokter dan perawat. Begitulah kontribusi dan empati nyata mereka.

Bagaimana dengan kita? Yang mungkin belum diberi kesempatan ikut turut aksi di lapangan. Tentu, cara paling sederhananya adalah menahan diri untuk tidak berkomentar. Terutama di media sosial (medsos). Menahan diri untuk tak terjebak ikut-ikutan melakukan aksi tak empatik yang hingga detik ini masih banyak dilakukan orang. Baik disadari atau tidak.Misalnya berkomentar “Makanya kalau di pesawat HP dimatiin, “Itu kalau nggak salah pilotnya kadrun ya,”

Sementara, beberapa media nasional juga memperlihatkan aksi tak empatik. Contoh memberi judul berita “Menengok Keindahan Pulau Lancang, Titik Hilangnya Pesawat Sriwijaya Air, “ Segini Gaji Plot Sriwijaya Air”. Pemberitaan yang hanya memanfaatkan peristiwa untuk dieksploitasi demi konten. Sebuah logika bisnis yang hanya mengejar keuntungan tanpa peduli dan berempati kepada korban. Ini hanya beberapa contoh saja.

Itu sebabnya, komunikasi empati perlu terus dinyalakan. Empati sendiri, seperti dipaparkan Idi Subandi Ibrahim dalam buku “Sirnanya Komunikasi Empatik” berasal dari kata Einfuhlung yang semula digunakan oleh seorang psikolog Jerman. Kata ini secara harfiah berarti “Merasa terlibat” (Feeling Into). Pentingnya empati atau “Merasa terlibat” dalam komunikasi ini biasanya seringkali dihubungkan dengan pembahasan mengenai persepsi dan kemampuan dalam mendengarkan.

Terkait dengan kasus di atas, menjadi penting empati itu dihadirkan. Dengan lebih banyak mendengarkan suara korban. Baik oleh mereka yang bekerja di lingkaran industri media (cetak, online, elektronik) maupun publik yang kini dengan mudah mengelola “medianya” sendiri lewat penggunaan media sosial (Twitter, Instagram, Facebook, Youtube, Tiktok). Termasuk dalam interaksinya dengan beragam group Whatsapp (WA). Dengan hadirnya komunikasi yang empatik demikian, tak hanya sekadar bisa menyejukkan suasana. Tapi juga turut serta mengasah sisi kemanusiaan kita. Agar lebih banyak bisa mendengar “suara” sesama.

(Yons Achmad. Praktisi Komunikasi. CEO Komunikasyik.com).

Belum ada Komentar untuk Komunikasi Empati Atas Tragedi

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

a Artikel Terkait Komunikasi Empati Atas Tragedi

Komunikasi untuk Resiliensi

T 18 Januari 2021 F A admin

Sebuah kampus Ilmu Komunikasi di Jawa Tengah, merayakan hari jadinya dengan mengangkat sebuah tema “Komunikasi untuk Resiliensi.” Saya kira, tema demikian sangat relevan dengan era pandemi yang masih kita hadapi sekarang ini. Kenapa? Ketika banyak orang secara tiba-tiba menghadapi beragam... Selengkapnya

Merawat Bahasa Media

T 16 November 2020 F A admin

Merawat Bahasa MediaOleh: Yons Achmad(Praktisi Komunikasi. CEO Komunikasyik.com) Media saat ini masih menjadi rujukan orang dalam berpikir, menentukan sikap bahkan mengambil keputusan. Tampilan luar seseorang ketika berbicara, menulis bahkan berkomentar di media sosial akan terlihat dari bacaan yang mereka konsumsi.... Selengkapnya

Proyek Gagal Film “My Flag”

T 26 Oktober 2020 F A admin

Film “My Flag: Merah Putih VS Radikalisme” yang diunggah salah satu akun ormas adalah proyek gagal. Alih-alih mendapatkan apresiasi publik, yang terjadi justru sebaliknya. Banyak kalangan menilai film itu bernuansa adu domba sesama umat Islam. Saya kira, memang ada benarnya.... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silakan hubungi customer service kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai jasa/produk kami.

Talkshow Komunikasyik: Kreativitas Digital Raih Finansial

Talkshow Komunikasyik: Komunikasi Wisata Pandemi

Talkshow Komunikasyik: Berkomunikasi dengan Al-Quran