Beranda » Kolom Komunikasyik » Pengamat Media: Stop Jadikan HRS Komoditas

Pengamat Media: Stop Jadikan HRS Komoditas

T Diposting oleh pada 19 November 2020
F Kategori
b Belum ada komentar
@ Dilihat 12 kali

Stop Jadikan HRS Komoditas
Oleh: Yons Achmad
(Pengamat Media. CEO Komunikasyik.com)

Saya membaca, ada yang tidak sehat dari sekian pemberitaan terhadap Habib Rizieq Shihab (HRS). Salah satunya, sekadar menjadikan HRS sebagai komoditas (barang dagangan). Dalam arti, semua mengambil keuntungan atas eksistensi serta ketokohan HRS. Mulai dari media, orang-orang dekat HRS yang bernafsu untuk “Panjat Sosial” (Pansos), kalangan aktivis oposisi yang mendompleng kepopuleran HRS, begitu juga buzzer dan aktivis pendukung rezim, mereka punya isu untuk misalnya “habisi”  HRS dan FPI. Begitu juga sambil menyelam minum air, hantam Anies Baswedan sekaligus.

Kemudian, apakah rezim Jokowi juga diuntungkan? Tentu saja. Gegap gempita berita tentang HRS mengurangi porsi pemberitaan atau perbincangan masyarakat atas beragam kebijakan rezim yang problematis. Sementara, rakyat sibuk bertengkar dengan rakyat, rezim leluasa meng-golkan beragam kebijakan sesuai selera penguasa. Itu sebabnya, arus informasi yang kurang sehat semacam ini perlu kita baca kembali secara kritis.

Betul bahwa HRS simbol perlawanan terhadap rezim Jokowi. Setidaknya di level jargon. Rezim Jokowi dengan revolusi mentalnya, sebuah jargon yang lama tak terdengar kabarnya karena sibuk bangun infrastruktur dari pada mental manusianya. Sementara, HRS begitu heroik dengan jargon Revolusi Akhlaknya, sebuah jargon yang  juga belum jelas bentuk dan arah konkritnya. Kita, masyarakat awam, sebenarnya juga bertanya? Sebenarnya “perjuangan” HRS itu apa? Hasil akhir yang diinginkan seperti apa?

HRS dengan FPI sebagai ormas memang berbeda dengan ormas-ormas lainnya. Satu yang menojol adalah semangat menggeloranya dengan upaya mencegah beragam kemungkaran. Dalam terminologi Islam dikenal dengan Nahi Munkar. Dilevel ini, tentu eksistensi HRS dan FPI tak boleh dianggap remeh. Prestasi terbesarnya dibidang politik tentu menganjal “Si Mulut Arogan” Ahok untuk berkuasa kembali jadi Gubernur DKI. Walau, dilevel kemanusiaan, kehadiran HRS dan FPI juga tak bisa dilupakan begitu saja. Kerap menjadi pasukan terdepan ketika beragam bencana datang. Mereka siap siaga membantu.

Kembali ke pokok persoalan. Saya meyakini, saat ini banyak kalangan menjadikan HRS sekadar sebagai komoditas. Menjadikan HRS sebagai epicentrum atas beragam sepak terjang, kebijakan dan perilaku politik, baik individu maupun kelompok. Pikiran awalnya, keuntungan apa yang bisa didapatkan dengan kepopuleran HRS? Kalau ini terus terjadi, maka risikonya, bakal banyak peristiwa transaksional yang mungkin terjadi dibalik beragam isu tentang HRS dan FPI ini.   Tentu Ini sangat membahayakan. Tak hanya bagi demokrasi tapi juga bagi Islam itu sendiri.

Saya melihat juga, ada kencenderungan saat ini ormas lain semacam Muhammadiyah  sudah mulai agak gerah dengan model gerakan “kerumunan”. Ada juga kritikan halus dari Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) dengan pimpinan baru Dr. Adian Husaini. Sekarang diperlukan, tak melulu urusan politik praktis semata, tapi diperlukan meminjam istilah Dr. Adian sebagai “Dialog Intelektual”. Saya kira, hal ini sebuah agenda yang sangat memungkinkan, karena alam demokrasi memberikan ruang bagi siapapun bisa menjajakan beragam gagasan dan konsep bernegara ke depan. Bahkan gagasan NKRI bersyariah dari FPI pun memungkinkan untuk di dialogkan. Terakhir, kini saatnya  kita mewarnai arus informasi dan media dengan gagasan-gagasan pencerahan yang lebih beradab dengan dialog intelektual. Bukan  melulu menyesaki arus informasi dan media dengan nuansa sensasi, adu domba apalagi ujaran kebencian.[]

Belum ada Komentar untuk Pengamat Media: Stop Jadikan HRS Komoditas

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

a Artikel Terkait Pengamat Media: Stop Jadikan HRS Komoditas

Proyek Gagal Film “My Flag”

T 26 Oktober 2020 F A admin

Film “My Flag: Merah Putih VS Radikalisme” yang diunggah salah satu akun ormas adalah proyek gagal. Alih-alih mendapatkan apresiasi publik, yang terjadi justru sebaliknya. Banyak kalangan menilai film itu bernuansa adu domba sesama umat Islam. Saya kira, memang ada benarnya.... Selengkapnya

Seni Mengelola Kecewa

T 1 November 2020 F A admin

Hidup sekian lama di Jakarta membuat saya banyak belajar untuk tersenyum setiap kali menemui harapan yang tak sesuai kenyataan. Belajar untuk lebih matang dalam menghadapi problem hidup. Selalu berhasil? Tidak. Banyak hal yang membuat saya sakit hati. Terutama kepada pemerintah.... Selengkapnya

Praktisi Komunikasi: Menjadi Buzzer Politik Itu Halal

T 20 November 2020 F A admin

Menjadi Buzzer Politik Itu HalalOleh: Yons Achmad(Praktisi Komunikasi.CEO Komunikasyik.com) Apakah jadi buzzer politik itu haram? Tidak. Boleh-boleh saja dan halal. Datangnya era media sosial menjadikan siapapun memungkinkan terjun bahkan menjadikannya sebagai profesi. Artinya, dia mendapatkan penghasilan dari sana. Hanya, kadang... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silakan hubungi customer service kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai jasa/produk kami.